Brasil Piala Dunia 2014 : Festival Rakyat nan Megah

  Di 2014, tak pelak pusat perhatian Bumi akan tertuju pada satu titik di peta dunia, Brasil. Brasil—salah satu kota tereksotis di dunia, dengan ritual dan tradisi yang masih melekat di antara masyarakatnya, hasil budaya yang menjadi misteri bagi peradaban modern berteknologi mesin dan robot canggih—menjadi tuan rumah pesta terbesar sedunia di mana nyaris seluruh penduduk Bumi berhasrat untuk terlibat di dalam euforianya. Ini kali kedua Brasil—yang merupakan penghasil kopi terbesar dan terbaik dunia serta menjadi salah satu penyumbang kopi paling ternama—menjadi tuan rumah setelah tahun 1950 silam. Negara asal Tari Samba itu tampaknya telah berusaha seoptimal mungkin mempersiapkan tempat penyelanggaraan hajatan sepak bola empat tahunan.

Kesiapan Brasil terbukti dengan selesainya pembangunan stadion serta terpilihnya maskot Piala Dunia 2014. Dalam rangka perayaan Piala Dunia 2014, Brasil secara resmi telah memperkenalkan maskot yang diberi nama Fuleco. Fuleco yang merupakan akronim dari kata futebol bermakna sepak bola dalam bahasa Brasil (Portugis) dan ecologia bermakna ekologi tersebut merepresentasikan armadillo (Tolypeutes tricinctus atau sejenis trenggiling). Armadillo sendiri sejatinya satwa yang hidup di wilayah Benua Amerika dan khusunya di Brasil biasanya berada di daerah kering bagian timur laut, walau yang patut disayangkan, habitatnya tersebut telah rusak sehingga fauna itu pun terancam punah. Sebagai tuan rumah, Brasil jelas telah siap sedia dengan rampungnya stadion utama tempat perhelatan sepak bola agung terselenggara sesuai dengan tenggat waktu yang diberikan oleh FIFA dalam kapasitasnya sebagai induk organisasi sepak bola dunia. Stadion Catelao yang tepatnya terletak di Kota Fortaleza—kota di timur laut Brasil—diresmikan pada Minggu, 16 Desember 2012 oleh Presiden Brasil. Pada kesempatan tersebut, selain menyampaikan pidatonya berupa rasa syukur atas kelarnya pembangunan stadion standar FIFA itu, Dilma Rousseff yang memimpin seremoni pun melakukan tendangan bola pertama demi menandai peresmian arena yang direncanakan menjadi stadion tempat putaran final tersebut.

Negara asal atlet sepak bola legendaris, Pele, dan legenda hidup Brasil, Ronaldo Luis Nazario de Lima sang maestro lapangan berjuluk The Phenomenon, ini sudah pasti mengincar gelar tertinggi persepakbolaan. Dan sebagai jawara turnamen Piala Dunia terbanyak, Brasil tak sesumbar bila negara tersebut telah siap untuk menghadapi kompetisi bergengsi Piala Dunia 2014 demi merebut piala keenam. Walau pada 1950 Brasil harus menelan pil pahit kekalahan tanding kandang saat menghadapi Uruguay, mereka tetap optimis mendapatkan kesempatan untuk memenangi Piala Dunia 2014. Tim Samba sendiri berlatih di bawah instruksi Luiz Felipe Scolari yang ditunjuk sebagai pelatih resmi. Scolari terpilih karena pernah membawa Brasil menjadi kampiun Piala Dunia 2002 yang dihelat di Stadion Internasional Yokohama—sekarang Stadion Nissan—Jepang dan memboyong piala ke-5 ke kampung halaman mereka. Carlos Alberto Parreira—yang berkat skenarionya, Brasil menjadi kampiun pada Piala Dunia 1994 di Amerika Serikat—akan mendampingi pelatih legendaris tersebut sebagai asistennya dalam hal koordinator teknis. Tim Selecao yang cukup difavoritkan oleh masyarakat dunia, tentu merasakan tekanan karena bermain kandang, beban yang memang cukup berat dipanggul oleh para atlet. Di luar itu, toh, Brasil sendiri tenar sebagai salah satu negara penyelenggara festival seperti Italia dan Perancis. Di Brasil sepanjang tahun, banyak festival yang diselenggarakan dengan begitu semarak dan meriah di berbagai kota dengan berbagai tema untuk merayakan berbagai macam hal. Dengan kemahsyuran Brasil sebagai pembuat perayaan meriah memesona, tentunya juga akan menjadikan Piala Dunia 2014 sebagai selamatan sepak bola sejagat yang cukup menjanjikan.